Sakit Kanker Tak Bisa Mutasi, Seorang PNS Akhirnya Meninggal
Admin 10 September 2026 10:14 WIB 190x
Sakit Kanker Tak Bisa Mutasi, Seorang PNS Akhirnya Meninggal

Fosmik, Salam pejuang  mutasi. Hari ini, tim fosmik menerima satu cerita pejuang mutasi yang meninggal disaat berjuang melawan sakit dan tidak bisa mutasi atas sakit yang dideritanya. Kisah ini diceritakan oleh salah satu temannya yang menyaksikan dan menjadi saksi atas perjuangan mutasi yang dilakukannya temannya semasa hidupnya karena faktor kesehatan.

Sebagai abdi negara, tentu PNS sadar dan paham akan konsekuensi terhadap pilihannya termaksud dengan risiko “Penempatan yang jauh”. Awalnya, kami siap dengan hal itu, namun takdir dan masa depan bukankah tidak ada yang tahu?.

Disaat melakukan tes CPNS sampai dengan pemberkasan PNS, badan masih terlihat segar bugar, tidak ada indikasi penyakit tertentu. Namun, suatu keadaan muncul setelah pengangkatan PNS dan penempatan. Beliau divonis terkena “KANKER” !!!

Tidak ada satupun dari manusia di bumi ini yang menginginkan sakit, terlebih penyakit itu adalah salah satu penyakit paling mematikan di dunia ini. Ditengah rasa sakitnya, beliau tetap melaksanakan tugasnya sebagai abdi negara, walaupun dengan kondisi yang tentu tidak maksimal.

Namun, hari demi hari yang dilewatinya semakin hari semakin berat. Hal ini dikarenakan lokasi penempatan PNS sangat jauh dari akses kesehatan untuk penderita kanker. Ditengah kondisinya, beliau selalu menyempatkan pulang ke kampung halaman setiap 2 minggu sekali untuk bertemu dengan keluarga kecilnya terutama istri dan anak perempuannya yang masih kecil.

Bertemu dengan keluarga tercinta tentu meningkatkan keinginannya untuk sembuh dari penyakit mematikan itu.Setiap beliau pulang, beliau selalu menyempatkan diri untuk melakukan check up yang jaraknya 5 jam dari kediamannya bersama keluarga. Jarak tersebut cukup dekat jika dibandingkan dengan daerah penempatannya yang sangat jauh dengan lokasi rumah sakit.

Hari demi hari terus berjalan, kondisi tubuh beliau sudah memberikan signal akan ketidaksanggupan terhadap penyakitnya. Usaha mutasi pun telah dilakukannya untuk bisa bekerja berdekatan dengan keluarganya. Namun usaha tersebut mendapatkan penolakan karena alasan belum memiliki masa kerja 10 tahun dan dilakukan penguncian NIP untuk PNS Angkatan 2019 keatas. Setiap penolakan itu menjadi pukulan terhadap mentalnya karena ia tidak tahu sampai kapan masih bisa menghirup udara lagi.

Berbagai usaha untuk mengetuk pintu pejabat instansi terkait juga tidak memberikan hasil. Beliau sering kali mengunggah status di Whattsapp untuk mengetuk pintu sanubari instansi, namun usaha tersebut seperti angin yang berhembus tanpa pernah mengetuk sanubari pembuat kebijakan.

Sampai waktunya, hari yang menyedihkan itu tiba. Beliau wafat saat menjalankan pengobatan kemonya yang ketiga. Akhirnya dia “pulang”, iya pulang ke tempat keabadian. Makamnya memang sudah berada di wilayah kediamannya, namun papan nisan itu tidak bisa bersenda gurau lagi bersama istri dan anaknya.

Kini anak itu sudah berdekatan dengan ayahnya, namun ia tidak bisa memeluk dan bermain lagi bersamanya, Ketika ayahnya masih jauh bekerja, anak tersebut menunggu setiap hari di pintu dan memeluk ayahnya ketika tiba di depan rumah walaupun waktunya terasa singkat. Kini sang anak hanya bisa memeluk makamnya setiap saat tanpa bisa melihat senyum ayahnya lagi.